Terapi Wicara dengan BPJS, bisakah?

Pada bulan Oktober 2018 sampai Maret 2019 lalu, anak ke-2 saya Sophia Harmoni menjalani terapi wicara di RS. Bunda Aliyah Depok.

Terapi wicara? Kenapa?

Yup…sebenernya saya sudah curiga sejak lama kalau Sophia mengalami keterlambatan bicara. Yaaa…salahkan saya yang masih terus berpositif thinking klo suatu saat Sophia pasti ngomong, namun saya jarang menstimulasi. :’(

Lalu sampai suatu hari saya cari tau mengenai speech delay. Dan saya menemukan suatu video seminar mengenai speech delay oleh Dr. Hardiono D Pusponegoro. Salah satu peserta seminar ada yang menceritakan kondisi anaknya yang mirip sekali dengan kondisi Sophia. Dan Dr. Hardiono menyampaikan bahwa anak tersebut mengalami gangguan bahasa ekspresif dan harus ke terapi wicara untuk dilatih otot-otot di dalam mulut.

Berikut video seminar Dr. Hardiono:

Dengan dasar informasi tersebut saya mencoba diskusi dengan suami. Alhamdulillah suami akhirnya setuju kalau Sophia perlu diterapi.

Ok, suami sudah sepakat bahwa Sophia perlu terapi. Selanjutnya saya pun mencari tahu mengenai cara mendapatkan terapi wicara dengan BPJS dan Rumah Sakit mana saja di Depok yang memberikan fasilitas itu. Pas banget kebeneran lagi cek IG nya RS Bunda Aliyah Depok yang berada di Jl. Kartini sebrang stasiun Depok Lama memposting informasi mengenai Poli Tumbuh Kembang di sana. Langsung saja saya telepon untuk cari tau apakah bisa menggunakan BPJS? Dan bagaimana prosedurnya? Alhamdulillah bisa. Dan berikut prosedurnya:

  1. Meminta rujukan ke faskes 1 ditujukan ke Dokter anak di RS Bunda Aliyah terlebih dahulu
  2. Ke Dokter anak untuk dicek, kemudian akan mendapatkan Surat rujukan dari dokter anak ke dokter tumbuh kembang
  3. Ke dokter tumbuh kembang untuk diobservasi, kemudian mendapatkan surat yang menerangkan si anak akan mendapatkan terapi apa saja dan berapa kali dalam 1 bulan
  4. Menentukan jadwal terapi bersama si terapis

Dokumen apa saja yang diperlukan ketika mendaftar ke Rumah Sakit dengan BPJS? Untuk ke dokter anak diperlukan:

  1. Fotokopi KTP pasien/orang tua
  2. Fotokopi kartu BPJS anak
  3. Fotokopi Kartu Keluarga
  4. Fotokopi rujukan dari faskes 1

Sedangkan ketika ke dokter tumbuh kembang, selain 4 dokumen tersebut di atas dibutuhkan juga fotokopi rujukan dari dokter anak dan surat control ke dokter tumbuh kembang.

Ketika diobservasi ke Dr. Amien (dokter tumbuh kembang di RS. Bunda Aliyah), si dokter akan mengeluarkan flash card berisi warna ataupun gambar binatang dan Sophia diminta untuk menyebutkannya. Dan karena si Sophia tipe-tipe jiper-an klo ketemu orang baru, jadi dia Cuma diem aja. Malah si kakak Raya yang semangat jawab :mrgreen: .

Dari observasi yang hanya 15 menit (tidak bisa 1 jam karena pasien yang menumpuk, dan observasi lebih jauh dilakukan berbarengan saat terapi), Dr. Amien menyebutkan Sophia mengalami kesulitan di artikulasi dan pemahaman sehingga dalam sebulan kedepan diperlukan terapi Sensori Integrasi 3 x dan Terapi Wicara 4 x. Setelah sebulan, akan dilakukan evaluasi apakah bulan berikutnya masih memerlukan terapi atau tidak.

Oh iya, sebagai informasi ada pembatasan terapi dengan memakai layanan BPJS. Yaitu, hanya bisa 2x dalam 1 minggu dan 7x dalam 1 bulan. Surat rujukan dari faskes 1 juga hanya berlaku selama 3. Jadi jika masa surat rujukan sudah habis, kita harus kembali lagi ke faskes 1 untuk mendapatkan surat rujukan yang baru. Surat rujukan lanjutan bisa ditujukan langsung ke dokter tumbuh kembang. Eh tapi ini tergantung dari faskes nya sih. Ada yang bisa langsung ke dokter tumbuh kembang, ada juga yang harus ke dokter anak lagi untuk mendapatkan rujukan ke dokter tumbuh kembang.

Trus gimana hasilnya?

Alhamdulillah ada perkembangan. Contohnya dari yang tadinya mengucap “sekolah”dengan “elah”sekarang sudah mengucapkan dengan sempurna. Begitupun menyebut namanya. Tadinya hanya menyebut “iah” tapi kini ia bisa menyebut “Sophia Harmoni” ketika ditanya siapa namanya. Dan sekarang sudah bisa membentuk 1 kalimat.

Lantas kenapa hanya 6 bulan?

Belakangan dapat jadwal yang tidak pas. Jadi 1 bulan belakangan Sophia dapat jadwal terapi jam 2 dan itu adalah waktu tidur Sophia. Jadi kami merasa terapinya jadi ga efektif. Karena tiap kali terapi, pasti Sophia dalam keadaan lesu dan ngantuk. Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk tidak meneruskan terapi. Tapi dengan perkembangan yang cukup bagus, dan juga kami sudah tau bagaimana cara menstimulasinya, kami yakin kami bisa melakukannya di rumah.

But overall, kami merasa bahwa dengan adanya layanan BPJS untuk terapi tumbuh kembang ini sangat membantu para orang tua yang memiliki anak-anak yang special untuk bisa diterapi. 🙂

Berikut beberapa video pertama Sophia mendapatkan terapi Sensori Integrasi dan Terapi Wicara:

 

4 comments on “Terapi Wicara dengan BPJS, bisakah?

  1. Artikel yang sangat bermanfaat,boleh tanya mbak untuk terapi tumbuh kembang di Rs bunda aliyah itu antri gak pada saat terapi wicara atau terapi sensory integrasinya?karena sy juga berniat untuk terapi disana,terimakasih

    1. Mohon maaf baru membalas. Setelah observasi awal oleh dokter tumbuh kembang, kemudian akan dilakukan penjadwalan oleh si terapis. Jadi kita akan datang sesuai waktu yang telah dijadwalkan. Hanya saja…karena pasien yang cukup banyak, jadi kita tidak bisa menentukan sendiri jadwal yang kita mau. 🙂

    1. Wah saya kurang tau ya mas. Tapi saat anak saya terapi, waktu itu pasien-pasien lain umurnya beragam. Antara 1 – 7 tahun. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *