Ternyata ini rasanya tinggal di Depok

a-yellow-house_1196-395

Saya selalu mengingat pergantian tahun dengan momen ketika pindahan ke Depok.

Pindah ke sebuah Rumah kecil hasil keringat saya dan suami (walau masih nyicil sampai 13 tahun mendatang sih :mrgreen: ) .

Tinggal di sebuah kawasan yang sangat tidak umum bagi kami tentu menjadi sebuah tantangan. Tapi pastinya tantangan yang sangat bisa dinikmati. Kawasan baru, tetangga baru, bener-bener bikin kami belajar lagi bagaimana berumah tangga, bagaimana beradaptasi, tidak hanya dengan orang lain, tapi juga dengan tubuh sendiri. Informasi aja nih, saya ini memiliki alergi terhadap hawa dingin. Terbebas dari hawa panas Kemayoran dan masuk kawasan dingin Depok membuat flu saya sering kambuh. Oke…saya ga boleh nyalahin cuacanya, tapi emang dasar badan saya yang ringkih jadi cepet banget masuk angin dan bersin-bersin. 😀

Kenapa di Depok

Teman-teman dan saudara saya bertanya, kenapa saya memilih di Depok? Seperti yang saya bilang tadi, kawasan Depok itu bukan kawasan yang umum buat kami. Bisa dihitung selama saya keluar dari rahim ibu saya sampai saya sebelum menikah, saya baru 3 kali ke kawasan Depok. Itupun hanya ke UI karena berkunjung ke tempat teman saya di sana dan mengantar suami -yang saat itu belum resmi jadi suami- untuk ujian masuk perusahaan. Walau saya sudah pernah share di salah satu postingan saya 2 tahun lalu tapi akan saya jabarkan lagi di sini.

  1. Saya dan suami bekerja di kawasan Jakarta Selatan dan kawasan pinggiran Jakarta yang dekat adalah Depok;
  2. Bisa diakses oleh banyak moda transportasi. Salah satunya Commuter Line. Dari stasiun Depok Lama sampai Pasar Minggu hanya menempuh waktu 20 menit. Mengalahkan sepeda motor. Dan hanya membayar Rp. 3.000 saja saudara-saudara!!;
  3. Udara di kawasan Depok masih sejuk karena dekat dengan Bogor;
  4.  Salah satu Universitas terbaik Indonesia ada di kawasan Depok, yaitu Universitas Indonesia. Mudah-mudahan Raya atau Sophia bisa masuk UI. Amiin (meneruskan cita-cita emaknya)
  5. DP yang ditawarkan oleh Developer sangat kecil. Cocok untuk kami yang tidak memiliki cukup uang untuk membayar DP yang rata-rata 20% dari harga rumah. :mrgreen:
  6. Masih cukup aman dari bahaya Banjir;
  7. Resapan air nya masih bagus.

Lingkungan

Bisa dibilang, kami agak nekat karena pindah di hari pertama tahun 2016. Disaat kami ga punya pengasuh anak-anak. Karena saat di Kemayoran, anak-anak diasuh sama Ibu Mertua. Tapi sebelum pindahan kami sudah survey Daycare dekat rumah untuk jaga-jaga kalau kami bener-bener tidak dapat pengasuh setelah ijin cuti saya habis. Yup…untuk persiapan pindahan, saya dan suami bergantian cuti. Kenekatan ke-2 yaitu kami belum punya tetangga. Penerangan di komplek juga hanya mengandalkan lampu tembak (karena kebetulan komplek kami adalah blok baru). Jadi kalau ga punya cukup nyali, dijamin selalu ketakutan tiap malam karena saking gelapnya. Apalagi depan rumah adalah kebon yang dipenuhi pohon bambu. Trus samping rumah kebon sawo dan duku. Tapi Alhamdulillah deket rumah ada Masjid. Jadi walau kelihatannya sepi, pasti ada orang sliwer-sliwir untuk Sholat ke Masjid. Rumah kami juga deket sama rumah penduduk lokal. Kebetulan belakang rumah saya adalah rumah salah satu petugas security komplek, makanya kami yakin insya Allah aman.

Transportasi

Dengan tinggal di Depok saya pun belajar berjuang bagaimana menikmati Commuter Line Jabodetabek jalur padat. Dari yang awalnya harus ditarik karena ga bisa keluar, sampai hampir terbang bergelantungan karena diserbu penumpang yang ingin keluar. Pokoknya T-O-P-B-G-T deh AnKer (a.k.a anak kereta) itu!! Hahaha

Tapi sekarang udah handal dunk!! :mrgreen: Hamdalah badannya tipis jadi cukup aman lah kalo hanya tersedia sedikit ruang. Hahahaha

Dan setelah 1 tahun menikmati jadi AnKer, saya mulai menganalisa apa aja “Do and Don’t” ketika kamu berada di Commuter Line Jabodetabek jalur padat. Di postingan terpisah ya!!

Berkebun

Kami sengaja menyisakan ruang terbuka untuk tidak dijadikan bangunan. Karena sudah menjadi cita-cita saya dan suami untuk bisa menanam ini itu di halaman depan ataupun belakang. Tau sendiri kan, di Jakarta udah jarang banget nemuin rumah yang ada pohonnya (kecuali rumah mertua di Kemayoran. Itupun hanya pohon pisang dan mangga -yang tak pernah berbuah-). Jadi di awal pilih rumah, sengaja suami memilih yang lahan lebihnya agak banyak. Yaaa…walaupun saya dan suami itu orang yang awam sekali sama kegiatan pertanian atau perkebunan. Tapi kami ga khawatir, karena kami dikelilingi sama teman-teman yang master dibidang pertanian dan perkebunan. Jadi kenapa ga dimanfaatin ilmunya, ya ngga?!

Soal foto rumah yang belum ada di socmed kami? ya maklumlah..rumahnya belum rapih banget. Jadi agak sungkan klo difoto. 😀

Mohon doanya ya supaya rumah tersebut jadi rumah yang selalu berkah. Selalu menjadi rumah yang paling dirindukan oleh penghuninya. 🙂

2 comments on “Ternyata ini rasanya tinggal di Depok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *