VBAC dengan jarak hampir 19 bulan?

“Bunda udah jadi wanita yang sempurna”, begitu bisikan suami sembari mencium kening saya sesaat saya melahirkan anak ke-2 kami dengan proses normal. Syukur Alhamdulillah ternyata saya bisa melahirkan normal dengan jarak 19 bulan kurang 2 hari. Proses kelahiran yang sebenarnya saya impikan sejak hamil Raya, anak pertama kami. Namun apa daya, tali pusat yang mengikat Raya sangat erat sehingga Raya tidak bisa turun walau air ketuban sudah pecah secara spontan.

Kehamilan anak ke-2 kami yang akhirnya kami beri nama Sophia Harmoni Maliq memang tidak terencana. Raya baru berumur 11 bulan waktu itu dan saya diketahui hamil jalan 2 bulan. Kaget, bingung. Sempat bertanya-tanya bisa ga ya melahirkan normal nantinya? Saya pun coba bertanya kepada mba’ Evariny si terapis hypnobirthing. Menurut keterangan mba’ Eva, jarak minimal VBAC adalah 18 bulan. Dan saya coba perhitungkan umur Raya saat saya melahirkan anak ke-2 nanti dan ternyata ngepas banget 18 bulan. Walau begitu, saya dan suami pun benar-benar bertekad melakukan apa saja supaya bisa VBAC. Hal pertama yang paling penting adalah mencari dokter yang benar-benar akan mensupport saya. Dan saya beruntung, dr. Susanti, SpOG yang merupakan dokter saya waktu melahirkan Raya, adalah dokter yang mendukung VBAC.

Teman-teman kantor yang rata-rata melahirkan normal pun tidak berhenti mendukung saya. Sampai-sampai teman saya menyarankan supaya saya ikutan senam hamil. Dan jadilah ketika kehamilan masuk 7 bulan saya ikut senam hamil di RS. YPK Menteng. Kenapa di RS. YPK Menteng? Karena jadwal yang cocok dengan yang saya mau hanya di RS YPK Menteng. Lagipula searah jalan pulang.

Di kehamilan ke-2 saya pun jadi lebih senang bergerak. Kalau biasanya tiap pulang dijemput suami, entah kenapa sejak hamil saya ga betah duduk berlama-lama di motor. Jadilah saya minta suami agar menjemput di Blok M saja. Biar dari Ampera ke Blok M saya naik kopaja. Begitu pun saat berangkat kerja. Hanya bareng suami sampai Ratu Plaza, lalu lanjut naik Kopaja. Harus hati-hati memang. Tau sendiri gimana lajunya Kopaja di Jakarta. Seperti ga perduli sama penumpangnya.

Kebetulan juga saat itu pas kami ga punya ART. Jadi kerjaan rumah tangga lebih banyak saya kerjakan sendiri. Harus naik turun-tangga untuk jemur dan angkat baju, nyapu-ngepel rumah sampai “ngosek” kamar mandi. Suami ga bantuin? Sengaja ga minta tolong suami, itung-itung saya olahraga. Kan musti banyak gerak :mrgreen:

Mulai 6 bulan juga saya mulai banyak jalan. Kalau biasanya Cuma diam berdiri nunggu Kopaja, tapi saya jalan menuju arah datangnya kopaja. Alhamdulillah si janin kuat.

Walau saya tidak jaga pola makan, tapi nampaknya si janin tau kalau saya sangat ingin VBAC. Terbukti dengan BB yang selalu nge-pas saat USG. Padahal saya ga pernah nahan-nahan untuk makan.

Melewati usia kandungan 38 minggu, mulai ada kekhawatiran. Karena si janin belum memberikan sinyal cinta. Klo kata dr. Santi, ada kemungkinan lewat dari HPL karena kelahiran pertama pun begitu. Walau tidak selamanya juga berlaku seperti itu. Tapi dr. Santi terus menyemangati dan memberikan saran supaya saya sering-sering berhubungan intim sebagai induksi alami (karena VBAC tidak boleh diinduksi dengan obat). Melewati HPL tanggal 26 Maret 2015, saya mulai cemas tapi tetap semangat. Dr. Santi menyarankan supaya saya banyak jongkok supaya kepala bayi makin turun dan itu akan memicu kontraksi. Saya jabanin. Ga hanya itu, saya mulai rutin makan korma dan minum air zamzam. Berharap bisa dimudahkan melahirkan normal seperti halnya Siti Maryam AS. Tiap malam pun saya mulai rutin sholat hajat, memohon kepada Illahi Robbii supaya keinginan saya terkabulkan.

Di tanggal 29 Maret 2015 dini hari, sinyal cinta itu datang. Saya tidak bisa tidur semaleman. Apalagi mulai keluar bercak darah. Senang walau agak meringis. Kontraksi mulai teratur. Kami putuskan untuk ke RS. Antam Medika di siang hari. Namun ternyata baru bukaan 1. Tadinya oleh bidan di RS saya tidak boleh pulang. Tapi saya kekeuh mau tunggu di rumah saja. Dan ternyata dr. Santi membolehkan. Suami yang mulai capek bolak-balik RS akhirnya memutuskan jika sampai tgl 1 April belum lahir juga, ia memutuskan SC saja di tanggal 2. Saya yang sebenarnya kurang setuju akhirnya Cuma bisa mengangguk.

Di tanggal 30 Maret dini hari ternyata kontraksinya makin menguat, saya kembali tidak bisa tidur. Akhirnya jam 6 pagi saya minta balik ke RS. Sampai RS Alhamdulillah sudah bukaan 4. Untuk menambah bukaan suami mengajak saya berjalan keliling RS. Benar saja, saat jam 8 pagi dr. Santi cek pembukaan ternyata sudah bertambah jadi bukaan 6. Pembukaan pun semakin bertambah walau pelan-pelan. Dan pada pkl. 12.15, spontan air ketuban pecah. Dr. Santi cek sudah bukaan 8 hampir 9. Saya pun merasakan sesuatu mendorong keluar. Kata dr. Santi kalau mau mengejan sudah bisa. Dan dimulailah proses melahirkan. Suami pun mendampingi untuk membantu menopang punggung saya. Dan di depan saya ada dr. Santi dan bidan yang memgang kaki saya. Walau sudah diajarkan saat senam hamil, tapi ternyata saya sempat salah mengejan. Ditambah lagi ternyata janin terlilit tali pusat. Alhasil harus beberapa kali mengejan sampai akhirnya Sophia terlahir. Alhamdulillah. Nikmat yang berbeda saat saya melahirkan SC dulu. Tapi ga bikin saya kapok karena pemulihannya lebih cepat.

Terima kasih suamiku, terima kasih dr. Santi. Terima kasih teman-teman yang terus menyemangati saya. 🙂

5 comments on “VBAC dengan jarak hampir 19 bulan?

    1. Semua berawal dari keyakinan dan kerjasama dengan si bayi sejak si bayi masih trimester 1. Semoga berhasil ya 🙂

  1. mbak boleh nanya lahiran diantam bidannya enak2 g y mbak?
    trs habis brp taon lalu? ambil kelas apa?
    sy sdg hamil anak ke2 pgn tau lairan di antam
    anak pertama dl lahir di evasari
    trimakasih mbak

    1. Hi Dede Puspita. Alhamdulillah bidannya enak-enak. Tahun 2015 habis 6 jutaan ambil kelas 2. Itupun karena cm 1 malam. Senin pagi masuk, siangnya lahiran, Selasa sore pulang 😀
      Semoga lahirannya lancar, ibu dan bayi diberi kesehatan dan keselamatan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *