2014 = pembelajaran, travel, fluktuasi emosi dan investasi

Tahun 2014 beberapa hari lagi akan berakhir.

Banyak hal yang saya lalui. Tentang keluarga, karier, masa depan dan emosi diri.

Setelah memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua saya di Otista pada bulan November 2013 dengan alasan supaya saya bisa lebih dekat ke kantor, namun ternyata membawa sedikit masalah di awal tahun 2014. Yaaa…banyak orang bilang yang namanya tinggal bareng beberapa kaluarga dalam satu rumah (kakak saya dan keluarganya, juga adik saya dan keluarganya) pasti ada aja sesuatu yang bisa bikin bersinggungan. Akhirnya di bulan Februari 2014, saya, suami dan Raya balik lagi tinggal di PIM (Pondok Indah Mertua).

Walau saya sudah mengenal suami sejak 6 tahun sebelum menikah, tapi ternyata yang namanya belajar mengenal dan memahami seseorang itu butuh waktu seumur hidup. Di tahun ke-2 pernikahan kami ini, kami belajar berkomunikasi dengan lebih baik. Lebih banyak diskusi walau hanya di atas kasur ketika Raya sudah tertidur lelap. Dan kami belajar supaya lebih kompak. Ya kompak dalam hal bagaimana mengasuh Raya, kompak soal pengeluaran rumah tangga, juga kompak soal kerjaan rumah.

Tahun 2014 saya anggap sebagai tahun pembelajaran. Saya belajar untuk sebisa mungkin selalu memasakkan makanan buat Raya. Jujur aja, saya ini dari dulu paling susah bangun pagi. Dulu waktu kecil, tiap pagi pasti dipijitin dulu sama bapak supaya bangun :mrgreen: . Semenjak bapak ga ada juga saya jarang banget masak. Wajar banget deh kemampuan memasak saya tuh minim banget. Sampai-sampai kadang klo lagi disuruh goreng ayam, ditanya dulu sama Ibu Mertua, bisa apa engga’? Yaelah…goreng ayam doang mah…gancil!! *kibasjilbab*

Alhamdulillah ketika Raya berumur 6 – 14 bulan, dia ga pernah nolak apa yang saya masak untuk Raya. Terima kasih pada internet sehingga saya bisa dapat banyak resep makanan.

Di Tahun ini juga saya belajar supaya bisa mengatur waktu ketika ada di rumah. Di bulan September lalu pengasuh yang juga ART kami mengundurkan diri karena mau mengasuh cucu nya yang baru lahir. Cari yang baru susahnya minta ampun. Akhirnya mau tidak mau ketika saya bekerja, Raya dititipkan ke neneknya. Urusan beberes rumah? saya bekerjasama sama suami siapa yang nyapu, yang ngepel, yang menjemur pakaian, yang cuci piring, yang masukin pakaian kotor ke mesin cuci, dan siapa yang nyetrika. Di awal-awal ga ada ART, saya sempet dapet keluhan dari suami. Jadi gara-garanya saya yang suka menunda pekerjaan rumah tangga. Padahal suami udah bantuin saya dengan menjaga Raya atau mengajak main Raya. Keluhan suami pas banget saat saya dapet beberapa artikel soal self discipline-nya orang-orang sukses. Mereka aja bisa, kenapa saya engga’? 🙂 . Dan saya sekarang merasa menjadi diri yang lebih baik dengan terarturnya semua kerjaan rumah.

Di bulan April 2014, walau kami sudah punya anak (yang berarti pengeluaran bertambah) tapi Alhamdulillah saya, suami dan Raya bisa pergi ke Padang, kampung Ibu Mertua. Perjalanan jauh pertama Raya. Alhamdulillah Raya anteng selama di pesawat. Raya juga anteng selama di perjalanan ketika kami berkeliling Maninjau dan Bukit Tinggi.

Di bulan Oktober 2014, kebetulan saya ada kegiatan kantor di Yogya. Akhirnya suami dan Raya menyusul. Perjalanan kali ini agak berbeda karena Raya yang sudah semakin besar dan lagi di masa pilih-pilih makan. Ga seperti waktu kami ke Padang, saya bawa bahan makanan untuk dibuatkan tim, kali ini Raya yang sudah bisa makan nasi kalau lagi susah makan ya seringkali mengandalkan tahu goreng (makanan kesukaan Raya) dan susu. Tapi kami senang bisa sejenak refreshing. Berharap tahun depan bisa travel ke tempat baru. 🙂

Oiya, di tahun ini juga saya positif hamil anak ke-2. Kaget juga pas tau kehamilan ini. Ya..karena sesungguhnya kami belum merencanakannya. Tapi kami pun belajar mengubah emosi kami serta tanggapan negatif orang-orang sekitar karena kami tidak ingin calon anak ke-2 kami merasa tidak diinginkan kehadirannya. Itu berbahaya bagi perkembangan karakter dan emosinya yang sudah bisa terbentuk sejak dalam kandungan. Dan selalu berpikir positif, mumpung saya masih bekerja di kantor sekarang. Jadi saya tidak perlu pusing dengan biaya kelahirannya nanti. Mumpung saya masih berpenghasilan, sehingga saya masih bisa menambah tabungan untuk calon adeknya Raya. 🙂

Di tahun ini juga kami memutuskan untuk “nekat” membeli rumah. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, yang namanya udah rumah tangga perencanaan ke depan seakan lebih jelas. Mau ngapain, mau inves apa, apa yang mau dibeli, pasti lebih tertata ketika sudah rumah tangga. Kenapa saya bilang nekat? Karena sesungguhnya kami tidak punya cukup uang untuk DP yang sampai 50-an juta. Tapi kami beruntung, ada penawaran rumah dengan DP yang sangat rendah di kawasan yang menjadi incaran kami, yaitu Depok. Tanpa biaya KPR dan adiministrasi. Kenapa Depok?

1. Karena kantor saya dan suami berada di daerah Jakarta Selatan

2. Perairan di Depok masih bagus, masih rindang juga.

3. Depok saat ini sudah menjadi kawasan yang maju

4. Transportasi ke kota pun cukup banyak pilihan. Bisa dengan Commuter Line atau pun Bus

Walau saat ini rumah tersebut masih dalam tahap pembangunan dan cicilan sudah mulai berjalan, tapi kami bersyukur sudah memantapkan hati di tahun ini. Karena ternyata sepekan lalu saya baca berita kalau BI rate untuk KPR mulai 2015 naik 25-30%. Tuh kan…harga rumah naik terus!! Coba kalo kami menunda-nunda sampai tahun 2015 datang, bisa jadi kami harus sedikit melupakan punya rumah dalam waktu dekat. 🙂

Inilah 2014-ku, pembelajaran hidup yang tiada henti. Semoga di tahun 2015 kami makin bisa belajar dan menjadi lebih baik. Aamiin Allohumma Aamiin.

Bagaimana dengan 2014-mu?

One thought on “2014 = pembelajaran, travel, fluktuasi emosi dan investasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *