Syndrom anak ke-2

Jadi ceritanya saya hamil anak ke-2.

Apaaaa??? cepet banget??? Kejar target bu??? pake’ KB ga sih??? ga’ kasihan sama Raya yang masih kecil???

Dan berjuta pertanyaan yang saya terima dari orang sekitar begitu tahu saya lagi hamil anak ke-2.

Yang bilang hebat, kasih selamat, ga sampe 5 orang.

Ngerasa disudutin ga sih?? Ditambah lagi dengan sikap suami yang ngerasa kecewa. Hellloooww…ini kan hasil perbuatan loe. 😀

Ditambah dengan ucapan yang…“Makanya jadi perempuan harus pinter2 jaga. Pakai jadwal calender dunk”

Eeerrr….pengen sumpel aja tuh mulut biar ga sekate-kate. Sayangnya cuma bisa sabar denger kata-kata itu.

Yang namanya udah rejeki, mau dijaga kaya’ gimana juga ya tetep aja dikasih.

Dan pastinya kami ada alasan tersendiri kenapa ga pake’ KB.

Mungkin dulu saya pernah jadi orang seperti mereka saat tau orang terdekat tau-tau hamil. Orang2 sering sebut kesundulan. Dan sekarang saya tau gimana rasanya jd orang yang disudutkan itu gegara hamil lagi.

Tapi akhirnya suami mau legowo nerima (bahkan sampai minta maaf sambil elus2 perut saya) gegara denger ceramah di pengajian kantor. Pas banget ngebahas soal “Syndrom anak ke-2”.

Jadi si ustadz cerita, kenapa anak ke-2 terkadang memiliki karakter yang berbeda. Agak unik. Agak bikin si orang tua harus lebih bersabar. Dan ternyata ini ada kaitannya dengan psikis si ibu saat mengandung. Apalagi kalau anak tersebut adalah anak yang sesungguhnya belum dinantikan kehadirannya. Saat si calon anak ke-2 hadir di rahim, si Ibu dan suami belum menerima kehadirannya. Dan ini ngaruh banget ke psikis si anak. Rasa tak diterima harus sudah dirasakan si jabang bayi sejak dalam kandungan. Astaghfirullah!!

Hal ini ternyata bukan nasihat agama semata. Ada hasil riset yang dilakukan khusus untuk membahas kondisi psikis anak yg dimulai dari kandungan.

Riset ini dilakukan oleh para ahli (Dr. Fakhir Aqil, ‘IM An-Nafs Al Tarbawi 46-47):

“Ketegangan dan goncangan yang dialami oleh seorang ibu hamil akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan pada janin. Bahkan hal itu akan membuat anak yang ia kandung menjadi seorang yang emosional. Karena itu, perlu adanya program bimbingan bagi para ibu hamil untuk menghindarkan semua pikiran yang dapat mengusik ketenangannya dan menciptakan ketegangan dan kece-masan, serta menjaga agar suasana kehidupannya selalu harmonis dan menyenangkan”.
“Masa kehamilan juga sangat berpengaruh pada kestabilan jiwa dan mental anak”.

Bahkan menurut Psikolog anak Rustika Thamrin Psi, CBA, CPHR:

hubungan antara ibu dengan bayi dalam kandungan sangat luar biasa. Sebab mereka dapat berkomunikasi dan menjalin keintiman. Tidak ada ibu hamil yang dapat menyembunyikan emosi dari bayinya. “Emosi yang dialami ibu dibawa ke plasenta bayi oleh molekul, sehingga bisa mempengaruhi perkembangan otak bayi dan karakter emosi bayi,” beber Tika. Menurutnya, stimulasi sejak dalam kandungan seperti respons sentuhan dan suara, dapat menjalin kedekatan emosi ibu dan bayi. Selain itu, juga bisa menentukan hubungan antara anak dan orangtuanya di masa depan

Beda halnya dengan Ibu hamil yang happy. Mereka lebih banyak menghasilkan anak yang berkualitas dari segi emosi sampai kecerdasan.

Jadi, mari senangkan hati para Ibu hamil!! mau kesundulan kek. Atau ternyata sudah banyak anak tetapi tetap dikasih sama Sang Pencipta. Jangan menghakimi mereka dengan tatapan bahkan pertanyaan yang buat mereka bersedih hati. Ga usah kepo si Ibu itu pakai KB atau ga. Pilihan itu pasti sudah mereka pikirkan tanpa disuruh. Soal kasihan sama si anak sebelumnya yang masih kecil, pasti ada waktunya si kakak menjadi dewasa, tergantung bagaimana si orang tua mengenalkan dan memberi pengertian pada si kakak.

So, Judge less please!! dan yuk, hasilkan generasi yang lebih berkualitas 🙂

 sumber riset:

http://forum.kompas.com/keluarga/239201-menjaga-kondisi-psikis-anak-sejak-dalam-kandungan.html

gambar: www.liputanislam.com

 

 

2 comments on “Syndrom anak ke-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *