Ketika Raya alergi

Saya memiliki alergi.

Ga bisa di tempat yang berdebu juga dingin. Alhasil pasti saya langsung bersin tanpa henti.

Di tahun 2009 dokter THT yang memeriksa saya berpesan agar saya tidak menikah dengan seseorang yang memiliki alergi juga. Karena pasti turun ke anak.

Tapi..yang namanya cinta mengalahkan segalanya #halah

Akhirnya saya menikah dengan seorang pria yang juga memiliki alergi. Tipe alerginya pun sama. Debu dan dingin. #hadeuuh

Ketika Raya terlahir ke dunia, saya sudah siap menghadapi keadaan bahwa Raya pasti alergi juga. Dan ternyata benar. Tiap pagi, ketika umur Raya hitungan hari dia ga pernah absen bersin. Seperti saya. :mrgreen:

Sumber: https://www.nestlebaby.com/id/child_development/baby_health/allergies/

Di umur 3 bulan, Raya pilek tiada henti. Awalnya saya cuek. Jadi cuma dikasih nenen lebih sering, tiap pagi dijemur sambil dada dan punggungnya dikasih balsem Transpulmint. Lalu ditepuk-tepuk. Tapi rupanya hal tersebut ga berhasil menyembuhkan pilek dan batuknya. Malahan kalau Raya sedang tidur, ia sering terbangun gara-gara batuknya yang nyeremin. Akhirnya Raya dibawa ke dokter. Raya positif batuk alergi. Raya hanya dikasih obat minum, ga perlu diuap. Karena masih ASI, dokter menyuruh saya untuk berhenti minum susu karena khawatir Raya alergi produk susu sapi yang saya minum setiap hari sehingga batuk-pileknya tidak sembuh-sembuh. Dokter juga menyuruh agar tidak banyak barang di kamar. Karena banyak barang di kamar hanya menjadi tempat bernaungnya debu.

Kelar batuk-pileknya, di umur 4 bulan Raya merah-merah sekujur tubuh. Saya mengindikasi karena saya makan lumpia sehari sebelumnya. Mungkin di lumpia ada ebi atau semacamnya yang membuat Raya merah-merah. Akhirnya beli sabun Sebamed yang harganya lebih mahal dari pelembab muka saya 🙁 . Tapi merah-merahnya tetep. Ga mau hilang. Terpaksa deh Raya ke dokter lagi. Dikasih obat yang sama waktu Raya batuk alergi, Fenistil. Trus untuk sementara bedaknya pun diganti pakai Salicyl.

Pas Raya 8 bulan saya cobain makan keju. Sekali makan ga keliatan timbul apa-apa. Pas besokannya makan lagi ternyata Raya merah-merah lagi. Bingung. Padahal selama ini saya suka makan keju. Tapi ga ngefek apa-apa ke Raya. Tapi kenapa setelah Raya makan langsung, eh keliatan efeknya. Hiks. Sehari ga ilang, 2 hari ga ilang. Akhirnya di hari ke-3 Raya dibawa ke dokter lagi. Dokter juga sempet bingung, jika Raya alergi produk susu tapi kenapa Raya ga apa-apa begitu dikasih Biostrum (vitamin dari kolostrum sapi). Dan dokter menyarankan, kalau nanti Raya dikasih sufor, agar dikasih sufor yg khusus untuk anak alergi produk susu sapi. Si dokter ga hanya kasih saran, tapi beliau juga memberi pesan sponsor. Sekaleng susu ternama seberat 800 gram. Diberi dengan cuma-cuma. Tapi untung saya tidak tergoda. Jadilah kaleng dan isinya hanya ngendon di lemari dapur. Masih utuh. Belum terbuka. Masih ga tega je kasih Raya sufor. ASI emaknya insya Allah masih cukup!!

Namun rupanya saya patut bersyukur, timbulnya alergi berupa merah-merah di kulit ternyata adalah reaksi alergi dengan tingkatan paling rendah. Anak sahabat saya yang sekarang tinggal di Surabaya malah lebih parah. Nazly -anak sahabat saya- akan sesak nafas begitu makan makanan berpemanis terutama cokelat. Dan sesak nafas merupakan reaksi alergi paling tinggi. Baru bisa coba makan makanan berpemanis 5 tahun kemudian. Poor Nazly. Mudah-mudahan kamu cepet sembuh ya le.

Kenapa Raya ga test alergi, Bieb? biar sekalian ketahuan Raya alergi apa aja.

Dulu sih sempat kepikiran supaya Raya menjalani test alergi. Eh ternyata kata dokter blm perlu karena Raya belum setahun. Lagipula kasihan. Karena test alergi itu caranya ditusuk-tusuk gitu kulitnya. Walah..saya ga pernah test alergi makanya ga tau 😀 .

Jadinya sekarang ya saya cuma cari segala informasi mengenai “Alergi” di internet dan dari nanya-nanya ke teman yang juga punya anak yang alergi.

Dan berikut hasil pencarian saya di Internet mengenai alergi:

  1. Dari www.nestlebaby.com: Rumah ternyata adalah tempat alergen berkembang biak. Debu di karpet, bulu-bulu di boneka atau pada binatang kesayangan anak. Untuk menghambat serangan ini, pastikan udara mengalir dalam ruang-ruang di rumah setiap hari. Ganti sprei seminggu sekali, gunakan lap untuk membersihkan perabot. Dan vacuum cleaner untuk membersihkan karpet.
  2. Kenapa alergi bisa tiba-tiba timbul? menurut di sini, sebenernya alergi tidak tiba-tiba muncul. Tapi masing-masing kita bisa mempunyai “bakat alergi” sejak lahir. Namun muncul begitu kekebalan tubuh kita sedang lemah kemudian bertemu dengan pemicu alergi.
  3. Bagaimana cara alami mengatasi alergi? Berdasarkan sumber ini, ada 12 cara alami untuk mengatasi alergi. Yaitu: dengan memperhatikan aliran udara yang ada di rumah, mengkonsumsi butterbur atau petasites yang dari beberapa penelitian bisa mengurangi gejala alergi, menghilangkan alergen dari dunia luar seperti debu dengan cara membersihkan diri begitu habis berpergian, banyak mengkonsumsi vitamin D, menggunakan masker ketika membersihkan ruangan, makan-makanan yag sehat, minum lebih banyak, sering membersihkan hidung baik dengan cairan pembersih hidung atau dengan cara istinsyaq ketika berwudhu, membersihkan perabotan dengan cara yang aman, menghindari asap rokok, polusi dan lainnya, mencoba uap panas untuk mengurangi hidung tersumbat dan mencari tahu pemicu alergi pada diri kita.

Nah, dari info-info tersebut pun saya bertekad untuk membantu Raya mengurangi alergi yang dimiliki.

Kamu sendiri alergi apa?

 

 

 

3 comments on “Ketika Raya alergi

  1. Aku sihh alergi lihat muka jelek, kemudian saat melihat kaca dan mengintrospeksi diri. Alergiku akhirnya sembuh total. Salam kenal, Saya hanya alergi sedikit terhadap debu, suka pilek dan bersin kalau beres2 rumah, atau ini cuma akal2an aja biar gak disuruh beresin rumah ya? entahlah.. Lho.. Ini malah mengabsurd di alamat orang.. hehe.. maaf mbak, kebawa emosi menulisnya, emosi nggak karuan. Btw salam yaa buat Raya, seneng dehh kita punya bakat yang sama.. Ehh… harus senang nggak sihh dengan baka alergi? XD Salam Mystupidtheory.

  2. Eh itu dokternya bener, kalau belum setahun nggak perlu cek-cek alergi karena dibawah setahun biasanya anak memang lebih sensitif. Sesudah setahun biasanya baru kebentuk alergi terhadap apa. Jadi ya bisa aja pas umur 5 bulan alergi ebi tapi setelah setahun gpp makan ebi.
    Semangat ya Rayaaa :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *