Energi Terbarukan itu bernama “BIOGAS”

Sebelum bulan September 2011, mungkin saya akan berkata tidak tau jika saya ditanya apa itu biogas. Kenapa September 2011? Karena pada bulan tersebut, tepatnya tanggal 21 September 2011 saya berhasil diterima kerja di sebuah lembaga bernama HIVOS, lebih tepatnya di program BIOGAS RUMAH a.k.a BIRU. Di bulan pertama saya kerja sebagai seorang Database Assistant kala itu mendengar kata BIOGAS memang sangat asing. Apalagi sebulan setelahnya langsung disuruh jaga stand di pameran KSN. Otomatis kelabakan karena pasti ga tau apa yang mau dijelasin nanti ke pengunjung. Berbekal baca-baca website BIRU dan juga mantengin Video tentang biogas rumah yang kami miliki, alhamdulillah akhirnya lancar juga jelasin ke orang-orang yang kala itu mungkin lebih tertarik dagangan batik di stand sebelah. sigh.

Ok..jadi apa itu BIOGAS RUMAH??

Biogas adalah reaktor yang berfungsi mengubah kotoran (hewan ternak, manusia, sampah dll) menjadi gas. Biogas ini menggunakan proses anaerobic memanfaatkan bakteri untuk mengurai kotoran dan gas agar terpisah. Nah, gas tersebut nantinya akan dipakai untuk memasak.

Apa beda dengan reaktor biogas yang lainnya?

Bedanya ada pada jenis biogas yang kami pakai. Kami menggunakan konstruksi beton dalam membangun reaktor biogas. Kenapa? karena berdasarkan pengalaman SNV sebuah lembaga yang merupakan Technical Advisor kami, dengan konstruksi beton waktu ketahanannya lebih lama (jika dirawat dengan baik dan benar). Bisa sampai 15 tahun. Tidak seperti bahan fiber yang mungkin hanya bertahan sampai 5 tahun saja. Dan kami tidak ingin peternak yang membangun reaktor biogas melalui program ini hanya bisa merasakan manfaatnya sampai 5 tahun saja. Lagipula, dengan reaktor yang dibangun di tanah itu mempercepat proses fermentasi karena pengendapan dalam tanah bisa menambah kelembaban suhu di dalam kubah.

Bedanya lagi, dengan program ini setelah selesai terbangun kami tidak akan lepas tangan begitu saja. Ada garansi reaktor selama 3 tahun. Garansi peralatan selama 1 tahun. Ada pelatihan perawatan dan juga pemanfaatan bioslurry. Juga ada kunjungan pemeliharaan selama 2 x dalam 3 tahun.

Kenapa BIOGAS RUMAH?

Karena memang concern kami saat ini adalah untuk pemakaian skala rumah tangga sebagaimana tujuan awal kami untuk mengurangi pemakaian kayu bakar dalam memasak. Tau sendiri kan bagaimana bahayanya asap kayu bakar?! Selain bisa bikin wajah ibu-ibu yang masak kucel hitam terkena asap, trus juga untuk kesehatan bisa menyebabkan ISPA alias Insfeksi Saluran Pernafasan Akut dan yang lebih parah lagi bisa menyebabkan TBC. Iiihhh kesian ibu-ibu itu kan?! Trus…kami juga tidak mau bumi semakin tandus dan gersang karena pohonnya ditebang dan kayunya dipakai untuk memasak.

Material apa yang dipakai untuk Biogas Rumah?

Kotoran yang dipakai adalah kotoran ternak seperti sapi, babi dan unggas. Makanya sekitar 50% dari reaktor biogas yang terbangun, pemiliknya merupakan peternak sapi perah seperti di sekitar Malang dan Lembang. Dan sejak tahun 2009 sudah dimulai kesepakatan antara Nestle yang merupakan perusahaan produk susu ternama dengan Hivos. Jadi Nestle berkontribusi dengan meringankan kredit bagi anggota Koperasi rekanan Nestle yang membangun reaktor BIRU. Si peternak tidak akan dikenai margin dari pinjaman tersebut alias cicilan 0% 😀 .

Kontribusi Hivos sendiri apa?

Hivos sebagai pelaksana memegang amanat dari Kedutaan Belanda (2009-2013) serta donor yang lainnya seperti Kedutaan Norway (2014-2015) dan negara-negara yang tergabung dalam program EnDev (2013-2015) untuk memberikan sebagian subsidi kepada peternak yang ingin membangun reaktor BIRU.

Sejak pertengahan 2009 sampai dengan hari ini sudah terbangun sebanyak 12.047 reaktor di 9 Provinsi (Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulsel dan NTT (Sumba)). Dan sekitar 97% dari reaktor yang terbangun berfungsi. Senang mendengarnya ya?!

Peternak di daerah tak perlu lagi susah-sudah mencari dan membeli LPG. Waktu untuk mencari kayu bakar bisa dipakai untuk berkarya (feature stories here). Sisa ampas biogas atau bioslurry bisa dipakai sebagai pupuk organik sehingga peternak tidak perlu membeli pupuk kimia dan juga memiliki nilai ekonomis seperti dijual ke tetangga sehingga menjadi sumber penghasilan baru.

Udah gasnya gratis, eh bioslurry nya bisa menghasilkan uang?!

Wew…

Siapa yang ga mau coba???

Oiya, dengan membangun biogas juga berarti kita sudah berkontribusi menekan emisi karbon. Karena gas methan dari kotoran yang sedianya terbuang memuai keatas dan menyebabkan lubang hitam di lapisan ozon, sudah terbakar dan terurai. Itulah sebabnya saat ini program BIRU sudah terdaftar dalam skema karbon kredit Gold Standart. Ihiy!!!

Yang di Jakarta ga punya ternak dan lahan ga bisa ikut kontribusi dunk??

Bisa aja ko’. Dengan info mengenai program BIRU ke saudara-saudara kalian ataupun follower kalian pastinya akan membuat orang makin mengenal BIRU dan tertarik untuk memasang reaktor BIRU di wilayah mereka. Apalagi saat ini sampai Juli 2014, untuk Pulau Jawa Tengah dan Jawa Barat, subsidi yang biasanya hanya Rp 2.000.000 menjadi Rp. 3.000.000. Di Jawa Timur pun masih berjalan program Bantuan langsung Material untuk membangun reaktor BIRU dari dirjen EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) sebesar Rp. 1.500.000 sampai juli 2014.

Mantep banget kan?!

Yuk ah olah limbah jadi berkah lewat BIRU!! 🙂

 

9 comments on “Energi Terbarukan itu bernama “BIOGAS”

    1. bener banget!! Di Pulau Sumba (NTT) malahan desanya sudah mandiri energi. Masak pakai biogas, listrik dari turbin angin dan air. Pokok’e keren lah!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *