Dia pun terlahir di Ultah pernikahan kami

Ketika dirimu sudah hamil besar, minggu-minggu menjelang HPL itu selalu bikin cemas. Apalagi kalau yang dikandung adalah anak yang pertama. Sama sekali ga’ ada pengalaman. Bingung bin penasaran! Walau zaman sudah maju kaya’ begini dimana semua informasi bisa dicari dengan mudah juga…tetep aja yang namanya bagaimana rasa kontraksi sesungguhnya itu ga bisa ditransfer. Cuma tau klo rasanya kontraksi ya…mules kaya’ lagi haid tapi berkali-kali lipet, perut rasanya kenceng. Ada juga yang bilang…mulesnya kaya’ mau pup.

Okaayy..lupakan sejenak bagaimana rasa kontraksi. Mari bahas cemasnya ketika sudah waktunya HPL!!

Dari 3 dokter kandungan yang pernah saya kunjungi, mereka kompak bilang klo HPL (hari Perkiraan Lahir a.k.a kandungan sudah masuk minggu ke-40) akan jatuh pada tanggal 26 Agustus 2013. Walaupun saya belum merasakan kontraksi, tetapi saya sudah mulai cuti dari minggu 38. Ya..tadinya kepengennya cuti saat detik-detik akan melahirkan, biar bisa puas 3 bulan sepanjang hari sama di debay. Namun kenyataannya…udah ga kuat bo’ naik motor dari Kemayoran ke kantor yang berada di Kemang. Naik angkot?? Lebih ngeri lagi. Pernah loh…saya harus pegangan kenceng walau dalam keadaan duduk dikarenakan kopajanya super ngebut.

Nah…memasuki minggu 38-39, mulai tuh berasa konpal alias kontraksi palsu. Untungnya udah donlot aplikasi penghitung Kontraksi yang ada di Play Store. Jadi tiap kali perut berasa kenceng, tinggal dipencet tombol “Start”. Dan pencet tombol “End”, begitu kencengnya udah ilang lagi (yak…akhirnya tau juga gimana rasanya kontraksi). Dari situ si aplikasi bakalan menghitung rata-rata kontraksi yang kita rasakan tiap berapa menit sekali dengan waktu berapa lama.

Di minggu 39, di suatu siang…mulai agak sering kontraksinya. Dan sempet bikin suami agak panik karena dia mantau lewat whatsapp. Alhasil, pas sore dia balik cepet dari kantor dan langsung ngajakin ke rumah sakit. Sampai rumah sakit ternyata baru bukaan 1. Dan dokter yang dihubungi via telepon sama bu bidan pun menyuruh agar saya pulang lagi biar ga kelamaan. Seminggu berselang, tiap kontrol pasti cek pembukaan dan masih aja dunk..bukaan 1. Kontrol yang tadinya 1 minggu sekali, menjadi 3 hari sekali. Dan itupun ga cukup dengan USG dan cek dalam, harus CTG untuk memastikan gerak debay masih oke-oke aja. Huft…making a sabar menunggu waktu lahiran.

Suami sempat berujar..”Hayoo..bunda ngidam apa yg belum kesampaian?” karena suami berpikir, bisa saja debay tidak mau keluar-keluar karena ada keinginannya yg belum tercapai. Ahey..!! *ting..ting…kesempatan buat bundanya dunk*. Yang belum kesampaian adalah… ES KRIM RAGUSA!! Cuma karena penasaran aja sama rasanya. Lagian pas kandungan 5 bulan saya minta itu, tapi sama suami malah dibelikan Es Krim Venetta dari Walls. Mintanya apa..dikasih apa. Huh!! Suami bilang…Ragusa ga terlalu enak. Dan harganya mahal pula. Ya..namanya juga penasaran. Akhirnya…demi keluarnya si debay, di suatu malam suami mengajak saya makan Es Krim Ragusa. Horraayyy!!

Apa lagi keinginan yg belum tercapai mumpung debay masih di perut?

Pregnancy Photo!!

Dijabanin juga sama suami, walaupun hanya di sebuah photobox di Blitz MOI. Yippiiiyy!!

Trus..trus..trus…akhirnya debay ngajakin keluar??

Ga juga saudara2. Hiks…kenapa ya?!

3 hari menjelang minggu ke-41 (30 Agustus 2013), seperti biasa control ke dr. Susanti. Kondisi debay masih bagus, posisi sudah oke. Tapi saat di CTG, gerakan si debay kurang bagus. Waduh!

Dan dr. Susanti pun menyarankan untuk di induksi malam itu juga. Walaaahhh…!! Dengan persetujuan suami, saya pun diinduksi di ruang observasi RS. Admira. Dan itulah pertama kalinya saya diinfus. Rasanya maknyus ya!! *meringis*

Tiap 6 jam di CTG untuk pantau kontraksi. Dan masih belum teratur juga sampai keesokan harinya. Habis induksi pertama, cek dalem lagi…pembukaan hanya 2. 🙁

Lanjut induksi ke-2 di tgl 31 Agustus 2013 siang hari. Udah sempet dikasih air juga sama guru spiritualnya kakak untuk di minum dan dioles, tapi sampai malam tiba pembukaan ga nambah2. Hanya gerak si debay yg makin aktif.

Tiba-tiba 1 jam setelah pergantian malam (1 September 2013) disaat saya mendengarkan musik relaksasi, ada air yg tumpah dari dalam vagina. Waduh..jangan-jangan air ketuban?? Saya pun berteriak memanggil bu bidan. Dengan tenang, bu bidan membantu saya untuk mengganti pakaian dalam saya. Dan saya pun meminta agar suami saya yang tidur di luar dibangunkan. Setelah itu bu bidan menelepon dr. Susanti untuk menanyakan tindakan yang harus dilakukan sekalian berdiskusi dengan suami yang mulai panik. Dr. Susanti menyarankan untuk di stop induksinya dan cek pembukaan 6 jam setelah pecah ketuban. Suami yang khawatir, meminta agar cek pembukaan tidak dilakukan setelah 6 jam, tapi 4 jam. Selama menunggu 4 jam tersebut, perut saya mulai mulas tak tertahankan. Suami pun terus menunggui sambil membacakan AlQuran. Saat itulah puncak kenikmatan rasanya. Dibawa tiduran salah, duduk pun ga bisa lama-lama. Setelah 4 jam, cek pembukaan lagi. Ga ada perubahan!! Akhirnya suami memutuskan untuk dioperasi saja karena melihat kondisi saya yang juga sudah lemas.

Menjelang operasi, eh koq saya laper banget!! Berulang kali merengek minta makan sama bu bidan tapi gak dikasih karena khawatir mual setelah si bius. Tapi saya lapaaaarrr!! *hiks*

Saya pikir ya..yg namanya operasi SC itu cuma sama dokter obgyn dan susternya. Tapi ternyata sama dokter bedah dan dokter anak juga. Keduanya laki-laki pula! Apadaya saya harus pasrah dikerumulin 5-6 org dlm keadaan naked!

Saat operasi sudah 10 menit berjalan, si dr. Susanti yang lagi berusaha mengeluarkan debay tiba-tiba ngerasa kesulitan gegara si debay ternyata kelilit tali pusat. Akhirnya dr. bedah dan dr. anak membangu dengan cara mendorong dari atas perut. Ga lama… “oeee…oeee…”. Alhamdulillah. Lansung saja air mata mengalir. Bahagia tak terkira. Akhirnya yang ditunggu keluar juga walau lewat “jendela”. Setelah debay dibersihkan hidung dan mulutnya, dr. anak pun langsung membopongnya dan menaruh di atas dada saya. Yak..saatnya IMD!! Lucu banget ngeliat debay menjilat-jilat puting saya. Tapi ga bisa lama-lama karena tangan saya dingin banget. Dan debay pun dibawa keluar untuk ditunjukkan ke pihak keluarga.

Senang luar biasa pokoknya. Dan yang bikin kami tambah senang ternyata Raya (yak..akhirnya itulah nama yg kami pilih untuknya) memang minta keluar berbarengan dengan hari ultah pernikahan kami. Saya pun teringat ketika di awal hamil, saya sempat berujar pada janin bahwa sungguh senangnya kalau dia bisa lahir di hari ultah pernikahan kami. Dan ternyata dia mendengar!!

Sempet kecewa sama diri sendiri karena ga bisa melahirkan normal, tapi akhirnya saya sadar. Mungkin SC memang jalan yang sudah diputuskan oleh Raya untuk bisa terlahir ke dunia. Dan sang Illahi pun meng-iyakan.

Yang paling terpenting adalah Raya terlahir ke dunia tanpa kurang satu apapun 🙂

 

 

4 comments on “Dia pun terlahir di Ultah pernikahan kami

    1. Pelayanan di sana bagus. Biaya sekali kontrol hanya 125rb. Sudah termasuk USG. Tapi mereka hanya punya USG 2D.
      Tapi kabar yang saya dengar dari kk ipar yang waktu itu ke RS Admira bulan November, kalau mereka sedang tutup sementara karena renovasi. Tapi blm tau kabar terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *