Hypnobirthing : melahirkan dengan cara hipnotis??

Jadi ceritanya disuatu makan siang kira-kira 1 tahun lalu, teman kantor saya yang sedang hamil 7 bulan bercerita bahwa kemarin (1 hari sebelum dy bercerita) dia mengikuti kelas Hypnobirthing. Saya yang penasaran (padahal saat itu saya belum menikah) penasaran, apa itu Hypnobirthing? Menurut penjelasan teman saya tersebut, Hypnobirthing merupakan terapi relaksasi dalam menghadapi kelahiran. Dalam relaksasi tersebut pun diajarkan bagaimana komunikasi dengan si calon bayi di dalam kandungan. Tak hanya itu, si suami yang diwajibkan ikut menemani pun diajarkan memijat si istri agar bisa lebih rileks. Uhhmm..seru banget tuh kaya’nya. Sejak saat itu, saya pun mencoba cari tau lebih detail ttg Hypnobirthing. Dan bertekad, suatu saat nanti saat saya hamil, saya harus mengikuti kelas Hypnobirthing.

Coba-coba cari tau, ketemulah saya dengan twitter @infohamil. Jadi, akun Infohamil ini adalah akun resmi hypnobirthing milik mba’ @evariny yang cukup dikenal sebagai terapis hypnobirthing. Nah…menurut website infohamil di sini, Hypnobirthing adalah:

metode alamiah yang dipergunakan untuk menghilangkan rasa takut, panik, tegang dan tekanan-tekanan lain yang menghantui ibu dalam proses persalinan

Waaahh..mantep ga tuh klo kita bisa menghadapi persalinan dengan tenang?? Pastinya rasa sakit akan bisa diminimalisir. Dan saya merasa hal ini penting banget saya dapatkan sebagai seorang calon Ibu muda yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan. Selama ini kan saya hanya mendengar dari orang-orang sekitar kalau yang namanya melahirkan itu sakitnya minta ampun. Dan cerita-cerita yang bikin parno itu pastinya bikin tambah sakit saat menghadapi kelahiran.

Jadilah saat usia kandungan memasuki 4 bulan, saya bilang ke suami kalau saya kepingin untuk mengikuti Hypnobirthing. Suami sih ikut-ikut aja. Asal istri senang. hehehehe

Kebetulan di awal April lalu, infohamil memberikan jadwal hypnobirthing yang masih available di bulan Mei. Karena yang saya baca di websitenya maksimal umur kehamilan saat mengikuti hypnobirthing adalah 32 minggu dan juga karena mereka hanya menerima 6 pasutri tiap kelasnya, jadi saya pun tanpa pikir panjang lagi segera mendaftar. Apalagi jadwal yang diberikan pas weekend jadi saya dan suami tidak perlu cuti kerja.

Nah…hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Di sabtu pagi yang mendung tanggal 25 Mei 2013 lalu, dengan penuh semangat saya membangunkan suami yang biasanya tidur lebih lama saat weekend. Seperti yang diberitahukan di email bahwa kelas dimulai pkl. 8.30 tepat dengan peserta yang lengkap ataupun tidak. Itu berarti ga ada deh yang namanya nunggu-nunggu. Beruntung kelas hypnobirthing nya diadakan di rumah mba’ Evariny yang berada di Kawasan Kelapa Gading. Tidak terlalu jauh dari rumah yang kami tempati (Pondok Indah Mertua) yang berada di Kemayoran.

Kurang dari setengah jam kami pun sampai di sebuah rumah yang asri dengan pohon beringin dan bougenvil di depannya. Saat kami datang sudah ada 3 pasutri yang duduk santai di atas matras di dalam sebuah ruangan dengan penerangan yang teduh. Memasuki ruangan, mba’ Evariny menyambut kami sambil menanyakan nama kami.

Tepat pkl. 8.30 kelas dimulai, padahal saat itu masih ada 1 pasutri lagi yang belom nongol. Mba’ Evariny pun memperkenalkan dirinya. Selain seorang terapis, ternyata mba’ Evariny juga seorang DOULA atau seorang nonmedis yang membantu proses persalinan. More about doula here.

Di hari itu, kelas yang berlangsung selama 3,5 jam ini berisi banyak ilmu yang benar-benar perlu diketahui oleh Ibu muda. Apalagi yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan. Ga hanya itu, di pertengahan sesi juga si mba’ Evariny mengajarkan bagaimana teknik relaksasinya. Langsung dipraktekkan loh saat itu. Dan saya sempat tertidur saking keasikan. :mrgreen: Oiya, sebelum praktek relaksasi, kami diminta untuk mencoba menggerakkan sebuah pendulum. Itu tuh…semacam rantai kecil yang memiliki bandul. Dan kami bener-bener takjub ternyata kami bisa menggerakkan pendulum ke kanan-kiri ataupun berputar tanpa menggerakkan tangan. Bukan sulap loh. Kami hanya fokus ke pendulum tersebut agar mau bergerak. Tinggal tubuh yang akan bekerja bagaimana caranya pendulum itu bergerak tanpa kita menggerakkan tangan. Keren kan?! Latihan menggerakkan pendulum sebenarnya untuk mengetahui seberapa besar alam bawah sadar kita yang terbuka. Karena ternyata, dalam otak kita 12% adalah alam sadar dimana kita melakukan hal-hal secara sadar seperti bekerja, olahraga dan 88% yang bekerja adalah alam bawah sadar. Nah, ada kalanya ketika kita melakukan sesuatu, gerbang antara alam sadar dan alam bawah sadar terbuka. Misal: kita terbiasa pergi ke kantor dengan rute melewati jalan A. Suatu hari kita tidak ke kantor, misal ke rumah sakit. Tetapi karena agak melamun, jalan yang kita ambil adalah arah menuju ke kantor. Hal ini terjadi karena kita melakukan sesuatu dengan berulang-ulang (repetation) dan tersimpan di alam bawah sadar kita.

Pentingnya keberadaan suami yang menemani di kelas itu ternyata agar si suami lebih mengerti apa yang dirasakan si istri yang sedang hamil. Si suami pun diberi motivasi agar bisa menemani istri saat melahirkan. Juga diajarkan bagaimana agar tenang menghadapi istri yg akan melahirkan.

Walaupun pada hari itu lebih banyak materi yang disampaikan, tapi cara mba’ Evariny menyampaikan ilmu-ilmu serta pengalaman dia dan orang sekitar, membuat kami tidak sabar untuk mengikuti sesi selanjutnya di hari Minggu.

Di postingan berikutnya ya… 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *