Periksa di mana??

Menjadi calon ibu baru pasti bingung kemana harus kontrol kehamilan.

Di awal kehamilan, saya dan suami memutuskan untuk kontrol di klinik dekat rumah. Di mana tempat kakak ipar saya melahirkan. Sebuah Klinik bernamakan Rumah Bersalin Mangkuprawira yang berada tidak jauh dari Pasar Kemayoran. Ada 2 dokter spesialis kandungan yang bertugas di klinik “Bu Mangku” begitu orang-orang menyebutnya. Yaitu dr. Asril yang praktek setiap Senin-Rabu-Jumat dari pkl. 19.00, Dr. Ali setiap Selasa, Kamis dan Sabtu dari pkl. 17.00 dan Dr. Rudityo setiap Kamis dan Sabtu.

Berdasarkan rekomendasi dari Ibu Mertua, saya pun mencoba untuk kontrol di Dr. Asril. Alasannya, karena Dr. Asril termasuk dokter kandungan yang paling senior dan paling ramah di situ. Terbukti sih dengan bejibunnya pasien yang mengantri untuk diperiksa Dr. Asril setiap jadwalnya tiba.

Dari pertemuan pertama dengan Dr. Asril, ko’ kurang sreg ya. Kurang komunikatif gitu. Sebagai calon Ibu baru, saya kan tidak tau apa yang harus saya lakukan dan tidak dilakukan. Apa yang harus saya tanya. Dan yang bikin agak kecewa karena mematahkan kebahagiaan saya yang saat itu baru mengetahui ada 2 garis di testpack walaupun masih samar2. Dengan berkata: Belum keliatan hamil karena masih samar-samar. Err…

Tapi karena dekat rumah, ya bulan depannya saya masih tetap mencoba untuk kontrol ke Dr. Asril. Nah…di kunjungan ke-2 kali ini saya sedikit dikecewakan oleh sistem administrasinya. Dimana data saya pertama kali datang hilang. Hadeeuuhh *tepokjidat*.

Kekecewaanpun berlanjut saat akan kontrol untuk ke-3 kali. Karena saya tau pasiennya yang begitu banyak, maka datanglah saya sebelum maghrib. Ternyata petugasnya tidak ada. Lalu, ada seorang bapak bilang: kartunya taruh saja di atas meja pendaftaran bu.

Ya sudah, sesuai anjuran si bapak itu, saya taruh kartu pasien di atas meja. Berharap ketika petugas datang, maka saya langsung dapat nomor 1. Saat saya kembali selepas Maghrib di mana sudah banyak ibu-ibu yang menunggu, saya pun bertanya kepada petugas soal kartu pasien yang tergeletak di atas meja. Dan dengan enteng si petugas bilang: yaaaahh…saya taruh di tray. Lupa tadi dinomori. Saya pikir kartu siapa. Oo..kartu Ibu? ya udah..nomor 17 ya bu.

Apaaaaaa??

Dan saya ceritakan hal itu pada suami yang masih berada di rumah. Dia pun bilang…ga usah aja deh. Diambil lagi kartunya.

Karena ga jadi…malem itu juga (kebetulan malam sabtu), saya langsung searching mengenai Dr. Onny Khonza. Udah lama sih saya cari tahu dokter yang benar-benar reccomended, pro-normal, dan komunikatif. Nah..nemu lah nama Dr. Onny Khonza yang kebetulan praktek di RS. Islam Cempaka Putih yang memang tidak jauh juga dari rumah. Cari tau di website RS. Islam di sini, di dapatlah infoormasi bahwa Dr. Onny Khonza praktek di RSI hari Sabtu jam 10.00-12.00. Ya sudahlah dari jam 08.00 kami berangkat ke RSI. Eh..pas daftar ternyata pendaftaran untuk Dr. Onny Khonza hari itu sudah tutup karena Dr. Onny praktek lebih cepat yaitu pkl. 09.00. Agar kedatangan kami tidak sia-sia, akhirnya kami coba daftar untuk diperiksa Dr. Widyorini yang saat itu juga sedang praktek.

Pengalaman diperiksa Dr. Widyorini, Alhamdulillah ramah, cukup komunikatif dan menenangkan. Hanya saja saat saya tanya pendapatnya mengenai tes lab untuk mengetahui apakah ada Toxo dan Rubella, si dokter berpendapat kalau tes itu dilakukan saat sudah hamil, maka lebih baik dihindari. Karena hasil tes bisa membuat si ibu jadi kepikiran dan stres dan itu bisa merusak perkembangan si bayi jika memang si ibu diketahui ada Toxo atau Rubella. Lah..koq gitu ya??

Pas bulan berikutnya saat waktunya kontrol, eh koq pas banget Dr. Widyorini cuti. Ya sudah, kesempatan itu saya gunakan untuk bisa diperiksa Dr. Onny Khonza. Dan ternyata, Subhanallah. Dokternya lebih menyenangkan. Kocak. Ceplas-ceplos, cuek karena pakai “elo-gue”, jadi berasa udah kenal lama. Udah gitu…saat mau USG, pasti dy mengucapkan Basmallah dan salam dulu ke calon bayi saya. 😀 . Walaupun agak kecepatan sih saat USG, kami yang masih takjub dengan perkembangan si dede jadi ga puas. Hehehehe

Akhirnya menemukan dokter yang sesuai harapan. Ihiy!!

Soal biaya?

Di RSI biayanya memang terbilang agak mahal, sedikit lebih murah dengan RS sebagus Mitra Kemayoran ataupun RS. Brawijaya yang menggunakan USG 3D. Padahal USG di RSI hanya menggunakan 2D dengan monitornya yang kecil. Sekali kontrol, untuk biaya dokter dan USG tanpa print kami dikenakan Rp. 220.000. Sekitar Rp. 400.000 kalau dengan vitamin. Cukup bikin mikir-mikir sih. Tapi…biarlah. Toh memang saya yang kepingin untuk bisa diperiksa Dr. Onny Khonza di sini. 🙂

2 comments on “Periksa di mana??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *